/Kalang Kupang Sederhana Namun Istimewa

Kalang Kupang Sederhana Namun Istimewa

Desiran suaranya seakan mengajak kita untuk ikut menari Gintor, begitulah kesan pertama saat kita mendengar suara dari Kalang Kupang yang merupakan salah satu alat musik khas Banua ini.
Pengunaan Kalang Kupang yang terbuat dari batangan bambu yang dipotong separu bagiannya dan lainnya dibiarkan utuh dan dipukul mengunakan bilah kayu kecil ini, selalu digunakan saat-saat upacara adat ataupun pentas kesenian Dayak meratus.

Biasanya, Kalang Kupak ini terbuat dari jenis bambu yang tipis yakni Paring Tamiang. Kalang Kupak terdiri dari 8 ruas bambu yang masing-masing dipotong setengahnya dan meruncing di bagian ujung.
Ruas-ruas bambu tersebut kemudian disatukan dengan serat rotan hingga bentuknya menyerupai calung dari Jawa Barat.
Kalang Kupak berperan sebagai pembawa melodi, dimainkan bersama alat musik agung (gong), babun (gendang), lumba (gendang), dan kecapi untuk mengiringi upacara adat Balian, yaitu upacara keselamatan bagi kehidupan masyarakat setempat yang dilaksanakan setiap tahun dan untuk mengiringi tarian adat, seperti tari Gintor.

Meski bentuk dan terbuat dari bahan sedarhana, tapi daya pikat suara Kalang Kupang tidak kalah dibanding bunyi dari alat musik lainnya saat dimainkan secara bersamaan. Bahkan, suara khas Kalang Kupang menjadi citra rasa tersendiri bahkan bisa disebut menjadi identitas dari musik Dayak Meratus secara umum.

Jika kita mendengar Kalang Kupang, secara spontan nalar kita pasti mengaitkannya dengan tradisi Dayak Meratus. Maka tidak berlebihan jika kita sebut, Kalang Kupang jadi ciri khas dan pembeda dalam musik orang Banua secara umum dan Dayak Meratus secara khusus.