/Ornamen Pesawat di Kubah Masjid Jadi Bagian Kekayaan Khasah Budaya Arsitektur Banjar

Ornamen Pesawat di Kubah Masjid Jadi Bagian Kekayaan Khasah Budaya Arsitektur Banjar

Bicara khasanah budaya Banjar, tentu banyak hal yang bisa kita diskusikan mulai dari tradisi, seni hingga bentuk bangunan (arsitektur) baik itu rumah maupun tempat ibadah seperti Masjid.

Khusus kekayaan budaya arsitektur yang berkembang di masyarakat Banjar tidak bisa terlepas dari seni ukir atau pahat yang diwujudkan dalam berbagai ornament yang ada di bangunan rumah maupun tempat ibadah.

Dikutip dari portal berita http://jejakrekam.com, menurut Amir Hasan Bondan yang melakukan riset panjang mendalami khazanah budaya Banjar, sejak 1925-1953, menyajikan fakta yang menarik. Amir Hasan Bondan yang merupakan seorang wartawan dan budayawan Banjar ini mengungkapkan dalam bukunya itu bahwa arsitektur Banjar sangat dipengaruhi unsur-unsur budaya seperti Tionghoa, Melayu, Jawa, dan Dayak, serta sentuhan Arab-Islam.

Seni ukir dalam ornamen khas Banjar, diakui Amir Hasan dalam buku terbitan Fajar Bandjarmasin (1953), awalnya sangat dipengaruhi budaya Hindu-Siwa yang dianut Kerajaan Negara Dipa, berlanjut ke Kerajaan Negara Daha, dan diserap kemudian di Kesultanan Banjar. Namun, Islam melarang seni rupa berbentuk makhluk hidup, membuat simbol-simbol flora lebih banyak dipakai kemudian, termasuk ornamen-ornamen yang ada di masjid.

Makanya, ornamen khas Banjar seperti tatah pucuk rabung, tatah gigi haruan, tatah benji, tatah bogam, tatah jambangan, tatah malayap dan tatah babuku dipilih agar sesuai dengan syariat Islam. Begitupula, ukiran berbentuk bunga atau kembang juga dipilih seperti kambang kacapiring, cempak, tanjung, cengkreng, jeruju, air mawar, melati, panggil-panggil, usir-usir dan sebagainya dikatakan Amir Hasan Bondan menjadi bagian dari seni arsitektur ornamen khas Banjar.

Seni ukiran ini kemudian diterapkan di beberapa bagian Masjid Sultan Surianyah era Sultan Tamjidillah I (1734-1759) di Kuin Utara, Banjarmasin Utara yang kaya dengan nilai filosofis di dalamnya. Hal ini tergambar dari seni ukir pada lawang (pintu), serta bagian lainnya di masjid tertua di Tanah Banjar itu.

Namun ternyata terlepas dari itu semua, ada hal yang menarik dari arsitektur bangunan Masjid yakni ornament bagian atas kubah masjid yakni, Pataka masjid. Dibeberapa masjid tua di tanah Banjar hingga sekarang masih kita dapati ornament unik yang menjadi bagian dari Pataka Masjid itu, salah satunya ornament Pesawat.

Ia pesawat, ornament ini di beberapa wilayah di daerah Hulu Sungai masih ada salah satunya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Kabupaten Balangan.

Ornament pesawat ini dilengkapi dengan baling-baling depan yang biasa terdapat pada pesawat jenis berpenumpang satu atau dua orang. Bahan ornament pesawat sendiri, sama persis dengan bahan Pataka Masjid yakni, terbuat aluminium dan biasanya Pataga Masjid disertai dengan ornament Bulan Bintan dan bola yang terbuat dari rangkaian kaya yang dibangkai menjadi sebuah bola serta hiasan lainnya yang berbentuk untaian bunga atau daun.

Selain khas dan menarik, keberadaan ornament pesawat pada Masjid ini juga menjadi ciri khas Masjid – masjid tua. Meski menyisakan banyak pertanyaan kenapa ada ornament pesawat di Masjid yang merupakan tempat sakral umat Islam ini, namun keberadaanya patut dijaga dan lestarikan sebagai warisan kekayaan arsitektur dan budaya tempo dulu.

Namun yang patut kita garis bawahi, keberadaan ornament pesawat ini tidak mengurangi kesakralan Masjid. Karena ornament peswat ini merupakan kesepakatan jemaah masjid saat masjid tersebut dibangun yang tentunya dipengaruhi budaya yang berlaku pada saat itu.

Lagi pula ornament Bulan dan Bintang yang mewakili kultur Islam juga terdapat diatas ornament pesawat tersebut. Selain itu, yang mengikat secara agama dalam desain membangun Masjid antara lain, arah Kiblat, pembagian zona laki-laki dan perempuan serta tidak boleh adanya ornament makhluk hidup.