/Batamat Quran Tradisi Agamis Orang Banjar
Batamat Al Quran yang dilaksanakan seorang mempelai

Batamat Quran Tradisi Agamis Orang Banjar

Tradisi Batamat Quran ini sudah ada sejak lama ditengah kehidupan orang Banjar, dimana menurut kebiasaan, setiap anak yang belajar mengaji (membaca Al Quran) dan berhasil menamatkan bacaannya 30 juz, maka diadakanlah upacara batamat Quran ( khatmul Quran).

Tradisi Batamat Quran ini juga dibedakan dua macam cara dan waktu pelaksanaan, sebab selain Batamat Quran sehabis tamat belajar Al Quran seperti yang dimaksud diatas, juga ada tradisi Batamat Quran saat upacara perkawinan dilaksanakan.

Tradisi Batamat Quran yang khusus digelar saat seseorang telah selesai belajar mengaji (membaca Al Quran) dan berhasil menamatkan bacaannya 30 juz, biasanya dilakukan secara bersama-sama dengan teman mengaji lainya.

Upacara ini biasanya didahului dengan arak-arakan yang diikuti oleh mereka yang ikut batamat Quran, sedangkan waktu pelaksanaannya biasanya dipilih saat bulan Rabiulawal.

Dalam pelaksanaanya, para peserta yang mengikuti upacara ini saat berada di tempat pembacaan Al Quran secara bersamaan juga biasanya dipayungi dengan mengunakan paying khusus yang disebut paying kembang.

Payung kembang ini adalah payung bertingkat tiga yang dirangkai dengan aneka bunga seperti bunga kenanga, cempaka, melati, mawar dan bunga kacapiring. Paying kembang ini biasanya juga dihias lagi mengunanakan kerta warna-warni.

Sedangkan untuk tradisi batamat Al Quran yang dilaksanakan pada saat perkawinan biasanya, bisa dilakukan siang hari atau malam hari. Jika siang hari biasanya dilaksanakan pada pagi hari, sebelum acara bersanding (pangantin batatai). Jika malam hari, maka dilaksanakan habis sholat isya sehari sebelum hari perkawinan.

Dalam pelaksanaan batamat Quran ini juga biasnya dilakukan baik oleh pengantin pria maupun pengantin wanita, sama seperti pelaksanaan batamat Quran bagi yang baru selesai belajar membaca Al Quran diisi dengan membaca kitab suci Al-Qur’an sebanyak 22 surah yang dimulai dari surah ke 93 (Ad-Dhuha) sampai dengan surah ke 114 (An-Nas) ditambah dengan beberapa ayat pada surah Al-Baqarah, ditutup dengan do’a khatam Qur’an, pembaca do’a biasanya guru mengaji pengantin tersebut.

Suatu kebiasaan yang unik dan lucu, ialah apabila pengantin telah sampai pada bacaan surah ke 105 (Al-Fiil) biasanya ramailah anak-anak dan remaja di sekitar itu memperebutkan telur masak sekaligus memakannya. Sebab menurut cerita konon yang mendapatkan telur masak itu akan menjadi terang hatinya, cepat menjadi pandai membaca kitab suci Al-Qur’an.

Tapi ada juga masyarakat yang melakukan tradisi ini pada bulan-bulan tertentu misalnya Bulan Mulud (Rabiul Awal), Namun semuanya merujuk pada kegiatan utama yaitu membaca Al Qur’an pada bagian akhir (Juz Amma).