/Sebutan Hulu Sungai, Mulai Nama Penglima Kerajaan Tanjung Puri Hingga Disahkan Belanda

Sebutan Hulu Sungai, Mulai Nama Penglima Kerajaan Tanjung Puri Hingga Disahkan Belanda

Tidak diketahui persis asal usul sebutan Hulu Sungai atau yang dulunya disebut Banua Lima untuk menyebut bagian wilayah tengara Kalimantan Selatan, yang kini wilayah tersebut meliputi Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan dan Tabalong.

Namun menurut cerita legenda, penamaan Hulu Sungai atau Banua Lima ini berasal dari keberadaan para Penglima di Kerajaan Tanjung Puri yang berjumlah lima orang.

Kerajaan Tanjung Puri sendiri diperkiran ada sekitar abad 5-6 Masehi. Kerajaan ini letaknya cukup strategis yaitu di Kaki Pegunungan Meratus dan di tepi sungai besar sehingga di kemudian hari menjadi bandar yang cukup maju.

Kelima penglima kerajaan ini disebut Datu Banua Lima yang terdiri dari yang pertama bergelar Panglima Alai, merupakan ahli politik dan strategi. Kedua, Panglima Tabalong, yang terkenal gagah, kuat, pemberani, dan berjiwa ksatria. Ketiga, Panglima Balangan yang berwajah tampan, pintar, dan suka menuntut ilmu kanuragan. Sedangkan yang keempat dan kelima adalah si kembar yang bergelar Panglima Hamandit dan Panglima Tapin. Mereka berdua ini terkenal keras dan suka berkelahi.

Namun jika merujuk sebutan Datu Banua Lima atau kelima penglima ini sendiri, dapat disimpulkan jika nama-nama tersebut merupakan nama untuk mewakili wilayah-wilayah yang pembagiannya luasan wilayah (Batasnya) mengunakan Sungai (Dalam bahasa Banjar disebut Batang), dengan demikian Datu Balangan misalnya ini adalah mewakili Penglima dari daerah Balangan yang wilayahnya berdasarkan Sungai/Batang Balangan dan begitu seterusnya sebutan Penglima lainnya.

Namun jika dilihat dari sisi sejarahnya atau catatan administrasi oleh Belanda, penamaan Banua Lima atau Hulu Sungai ini bisa dilihat saat babak baru sejarah Kalimantan Selatan dimulai, dimana babak baru ini dimulai dengan bangkitnya rakyat Banjar melawan Belanda.

Gerakan melawan penjajah Belanda tersebut, ditandai oleh tindakan pengeran Pangeran Antasari yang tampil sebagai pemimpin rakyat dengan panglima perangnya adalah Demang Lehman pada tanggal 29 April 1859  menyerang Benteng Pengaron dan lokasi tambang Nasau Oranje milik Belanda.

Dalam rentang waktu Perang Banjar (1859-1905) yang terjadi di Kesultanan Banjar yang meliputi wilayah provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah saat ini, pihak Belandan tepatnya pada tanggal 11 Juni 1860 menghapus kesultanan dan kerajaan Banjar yang diperintahkan langsung oleh Residen Hindia Belanda saat itu.

Kemudian tahun 1913 daerah ini dibagi menjadi sejumlah afdeling, yaitu Banjarmasin, Amuntai dan Martapura. Selanjutnya berdasarkan pembagian organik dari Indisch Staatsblad, Kalimantan Selatan dibagi menjadi dua afdeling, yaitu Banjarmasin dan Hulu Sungai. Tahun 1938 Hindia Belanda mendirikan tiga provinsi atas eilandgewest yaitu Sumatera beribukota di Medan, Borneo beribukota di Banjarmasin, dan Timur Besar beribukota di Makassar.

Pembentukan provinsi Kalimantan ini juga diberangi dengan dibentuknya Gouverment Borneo dengan ibukota Banjarmasin dan Gubernur Pertama dr. Haga 1938, setelah Indonesia merdeka, Kalimantan dijadikan Propinsi tersendiri dengan Gubernur Ir. Pangeran Muhammad Noor.

Lalu tanggal 29 Juni 1950, sesuai Kepmendagri No. C/17/15/3 wilayah Kalimantan dibagi menjadi 6 Kabupaten Administratif dan 3 Swapraja. Salah satunya Afdeeling Van Hoeloe Soengai dibentuk menjadi Kabupaten Hulu Sungai dangan ibukota Kandangan.

Meski dalam perjalanannya, hingga kini Kabupaten Hulu Sungai ini mekar menjadi enam Kabupaten atau sering disebut Banua Enam atau Banjar Hulu Kabupaten Tapin, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kabupaten Balangan dan Kabupaten Tabalong. (dirangkum dari berbagai sumber)