/Madihin Sastra Lisan Paling Populer di Masyarakat Banjar

Madihin Sastra Lisan Paling Populer di Masyarakat Banjar

Beragamnya seni sastra lisan yang dimiliki orang Banjar ini menjadi salah satu bukti dari keberagaman kebudayaan orang Banjar itu sendiri.

Madihin salah satu seni sastra lisan orang Banjar ini disebut sebagai sebuah genre puisi rakyat anonim dan hanya dimiliki oleh suku Banjar ini dengan sendirinya tidak dapat dirumuskan dengan cara membandingkan atau mengadopsinya dari khasanah di luar folklor Banjar.

Ada yang menyebutkan jika Madihin merupakan pengembangan lebih lanjut dari pantun berkait, dimana setiap barisnya dibentuk dengan jumlah kata minimal 4 buah dan jumlah baris dalam satu baitnya minimal 4 baris.

Tapi terlepas dari itu, kesenian Madihin yang dibawakan Pamadihinan (orang yang membawakan madihin) bukan hanya seni lisan berupa hapalan (dibawakan/diucapkan tanpa melihat tulisan) tapi didalamnya terkumpul kepiawaian yang harus dimiliki oleh seorang Pamadihinan.

Kepiawaian itu, terdiri dari terampil mengolah kata sesuai dengan tuntutan struktur bentuk fisik Madihin, terampil dalam hal mengolah tema dan amanat, terampil dalam hal olah vokal, terampil dalam hal mengolah lagu ketika menuturkan Madihin dan terampil dalam hal mengolah musik penggiring penuturan Madihin (menabuh gendang/rebana khusus Madihin/), terakhir harus terampil dalam hal mengatur keserasian penampilan ketika menuturkan Madihin di depan publik.

Keberadaan Madihin sendiri hingga dulu hingga sekarang tidak berubah jauh, yakni merupakan pertunjukan bagu hiburan rakyat yang biasanya untuk memeriahkan malam hiburan rakyat (bahasa Banjar Bakarasmin)

Pertunjukan Madihin sendiri sekarang bisa diadakan untuk setiap momen baik untuk memperintai hari-hari besar kenegaraan, kedaerahan, keagamaan, kampanye partai politik, khitanan, menghibur tamu agung, pasar malam, penyuluhan, perkawinan, pesta adat, maupun saprah amal dan lainnya.

Sedangkan catatan lain dari Madihin ini menurut Wikipedia jika, jaman dahulu Pamadihinan termasuk profesi yang lekat dengan dunia mistik, karena para pengemban profesinya harus melengkapi dirinya dengan tunjangan kekuatan supranatural yang disebut Pulung. Pulung ini konon diberikan oleh seorang tokoh gaib yang tidak kasat mata yang mereka sapa dengan sebutan hormat Datu Madihin.

Pulung difungsikan sebagai kekuatan supranatural yang dapat memperkuat atau mempertajam kemampuan kreatif seorang Pamadihinan. Berkat tunjangan Pulung inilah seorang Pamadihinan akan dapat mengembangkan bakat alam dan kemampuan intelektualitas kesenimanannya hingga ke tingkat yang paling kreatif (mumpuni).

Faktor Pulung inilah yang membuat tidak semua orang Banjar di Kalsel dapat menekuni profesi sebagai Pamadihinan, karena Pulung hanya diberikan oleh Datu Madihin kepada para Pamadihinan yang secara genetika masih mempunyai hubungan darah dengannya (hubungan nepotisme).

Datu Madihin yang menjadi sumber asal usul Pulung diyakini sebagai seorang tokoh mistis yang bersemayam di Alam Banjuran Purwa Sari, alam pantheon yang tidak kasat mata, tempat tinggal para dewa kesenian rakyat dalam konsep kosmologi tradisonal etnis Banjar di Kalsel.

Datu Madihin diyakini sebagai orang pertama yang secara geneologis menjadi cikal bakal keberadaan Madihin di kalangan etnis Banjar di Kalsel.

Konon, Pulung harus diperbarui setiap tahun sekali, jika tidak, tuah magisnya akan hilang tak berbekas. Proses pembaruan Pulung dilakukan dalam sebuah ritus adat yang disebut Aruh Madihin. Aruh Madihin dilakukan pada setiap bulan Rabiul Awal atau Zulhijah.

Menurut Saleh dkk (1978:131), Datu Madihin diundang dengan cara membakar dupa dan memberinya sajen berupa nasi ketan, gula kelapa, 3 biji telur ayam kampung, dan minyak likat baboreh. Jika Datu Madihin berkenan memenuhi undangan, maka Pamadihinan yang mengundangnya akan kesurupan selama beberapa saat.

Pada saat kesurupan, Pamadihinan yang bersangkutan akan menuturkan syair-syair Madihin yang diajarkan secara gaib oleh Datu Madihin yang menyurupinya ketika itu.

Sebaliknya, jika Pamadihinan yang bersangkutan tidak kunjung kesurupan sampai dupa yang dibakarnya habis semua, maka hal itu merupakan pertanda mandatnya sebagai Pamadihinan telah dicabut oleh Datu Madihin. Tidak ada pilihan bagi Pamadihinan yang bersangkutan, kecuali mundur teratur secara sukarela dari panggung pertunjukan Madihin.